forlitas…

4 08 2009

Assalamu’alaikum

Untuk teman-teman mantan pengurus FORLITAS.

Hamasah !

Dah lama ni blog kita yang sepi…Kalau ada yang mau mengirimkan tulisan, boleh3x… 🙂





Ujian MID Semester Genap

23 03 2008

Jelang ujian MID Semester

Tak terasa ujian mid semester genap semakin dekat. Sudah siap? Ya, harus sudah disiapkan. Apa sih yang harus disiapin ?

         Catatan kuliah segera dilengkapi.

         Dicicil belajarnya. Jangan sampai menerapkan sistem SKS (Sistem Kebut Semalam). Selain dampak yang ditimbulkan kurang bagus, juga akan berpengaruh terhadap kesehatan.

         Ujian MID Semester Genap Coming soon...Segera tanyakan kepada teman yang tahu tentang matakuliah tertentu yang kita merasa kesulitan untuk memahaminya.

         Jaga kondisi kesehatan (makan, minum, tidur, olah raga).

         Cari informasi kapan kartu ujian bisa diambil. Kalau sudah ada, segera ambil dan simpan yang rapih.

         Melengkapi peralatan menulis jika belum lengkap. (pena, pensil, penggaris, tipex, penghapus,dll)

         Catat jadwal dengan benar, bahkan kalau perlu cocokkan berulang kali agar tidak salah. Karena apabila salah jadwal (matakuliah, ruang, waktu ujian),bisa jadi tidak ada ujian susulan, sehingga nilai ujian kita kosong.

         Kurangi kegiatan yang kurang bermanfaat (nongkrong, melamun, main game, dll). Ayo…bergeraklah….belajar!!!

         Berdo’a agar dimudahkan baik dalam prosebelajar, ujian, maupun hasil akhirnya nanti.

         Keep fight, hamasah !!!

Tentunya masih banyak lagi yang harus disiapin. Nanti ditambahin di buku catatannya sendiri ya….

 GOOD LUCK

 





Hikmah Didahulukan Pendengaran daripada Penglihatan Di Dalam Al-Qur’an

20 03 2008

Manusia ketika hilang matanya, maka hilanglah segalanya, hidup dalam kegelapan sepanjang waktu, tidak bisa melihat apa-apa…
Akan tetapi kalau manusia kehilangan pendengarannya, maka dia masih bisa melihat. Pada saat itu, musibah yang ia derita lebih ringan daripada ia kehilangan mata.

Akan tetapi Allah ta’alaa ketika menyebutkan kata “pendengaran” dalam Al-Qur’an selalu didahulukan daripada penglihatan. Sungguh, ini merupakan satu mu’jizat Al-Qur’an yang mulia. Allah telah mengutamakan dan mendahulukan pendengaran daripada penglihatan. Sebab, pendengaran adalah organ manusia yang pertama kali bekerja ketika di dunia, juga merupakan organ yang pertama kali siap bekerja pada saat akhirat terjadi. Maka pendengaran tidak pernah tidur sama sekali.

Sesunguhnya pendengaran adalah organ tubuh manusia yang pertama kali bekerja ketika seorang manusia lahir di dunia. Maka, seorang bayi ketika saat pertama kali lahir, ia bisa mendengar, berbeda dengan kedua mata. Maka, seolah Allah ta’alaa ingin mengatakan kepada kita, “Sesungguhnya pendengaran adalah organ yang pertama kali mempengaruhi organ lain bekerja, maka apabila engkau datang disamping bayi tersebut beberapa saat lalu terdengar bunyi kemudian, maka ia kaget dan menangis. Akan tetapi jika engkau dekatkan kedua tanganmu ke depan mata bayi yang baru lahir, maka bayi itu tidak bergerak sama sekali (tidak merespon), tidak merasa ada bahaya yang mengancam. Ini yang pertama.

Kemudian, apabila manusia tidur, maka semua organ tubuhnya istirahat, kecuali pendengarannya. Jika engkau ingin bangun dari tidurmu, dan engkau letakkan tanganmu di dekat matamu, maka mata tersebut tidak akan merasakannya. Akan tetapi jika ada suara berisik di dekat telingamu, maka anda akan terbangun seketika. Ini yang kedua.

Adapun yang ketiga, telinga adalah penghubung antara manusia dengan dunia luar. Allah ta’alaa ketika ingin menjadikan ashhabul kahfi tidur selama 309 tahun, Allah berfirman:

فضربنا على آذانهم في الكهف سنين عددا (الكهف: 11)

Maka Kami tutup telinga-telinga mereka selama bertahun-tahun (selama 309 tahun, lihat pada ayat 25 berikutnya -pent) (Q.S. Al-Kahfi: 11)

Dari sini, ketika telinga tutup sehingga tidak bisa mendengar, maka orang akan tertidur selama beratus-ratus tahun tanpa ada gangguan. Hal ini karena gerakan-gerakan manusia pada siang hari menghalangi manusia dari tidur pulas, dan tenangnya manusia (tanpa ada aktivitas) pada malam hari menyebabkan bisa tidur pulas, dan telinga tetap tidak tidur dan tidak lalai sedikitpun.

Dan di sini ada satu hal yang perlu kami garis bawahi, yaitu sesungguhnya Allah berfirman dalam surat Fushshilat:

وما كنتم تستترون أن يشهد عليكم سمعكم ولا أبصاركم ولا جلودكم، ولكن ظننتم أن الله لا يعلمو كثيرا مما تعملون (فصلت: 22)

Dan kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian yang dilakukan oleh pendengaranmu, mata-mata kalian, dan kulit-kulit kalian terhadap kalian sendiri, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kalian kerjakan. (Q.S. Fushshilat: 22)

Kenapa kalimat “pendengaran” dalam ayat tersebut berbentuk tunggal (mufrad) dan kalimat “penglihatan” dan “kulit” dalam bentuk jamak ? Padahal, bisa saja Allah mengatakannya:

أسماعكم ولا أبصاركم ولا جلودكم
             
Pendengaran-pendengaran kalian, penglihatan-penglihatan kalian, dan kulit-kulit kalian. Dan memang konteks ayatnya adalah pendengaran dan penglihatan (bentuk tunggal) atau pendengaran-pendengaran dan penglihatan-penglihatan (bentuk jamak). Akan tetapi Allah ta’alaa dalam ayat di atas -yang demikian rinci dan jelas- ingin mengungkapkan kepada kita tentang keterperincian Al-Qur’an yang mulia. Maka mata adalah indera yang bisa diatur sekehendak manusia, saya bisa melihat dan bisa tidak melihat, saya bisa memejamkan mata bila saya tidak ingin melihat sesuatu, memalingkan wajahku ke arah lain, atau pun mengalihkan pandanganku ke yang lain yang ingin saya lihat. Akan tetapi telinga tidak memiliki kemampuan itu, ingin mendengar atau tidak ingin mendengar, maka anda tetap mendengarnya. Misalnya, anda dalam sebuah ruangan yang di sana ada 10 orang yang saling berbicara, maka anda akan mendengar semua suara mereka, baik anda ingin mendengarnya atau tidak; anda bisa memalingkan pandangan anda, maka anda akan melihat siapa saja yang ingin anda lihat dan anda tidak bisa melihat orang yang tidak ingin anda lihat. Akan tetapi, anda tidak mampu mendengarkan apa yang ingin anda dengar perkataannya dan tidak juga mampu untuk tidak mendengar orang yang tidak ingin anda dengar. Paling-paling anda hanya bisa seolah-olah tidak tahu atau seolah-olah tidak mendengar suara yang tidak ingin anda dengar, akan tetapi pada hakikatnya semua suara tersebut sampai ke telinga anda, mau atau pun tidak.

Jadi, mata memiliki kemampuan untuk memilih, anda bisa melihat yang itu atau memalingkan pandangan mata dari hal itu, saya pun demikian, dan orang lain pun demikian, sedangkan pendengaran; setiap kita mendengar apa saja yang berbunyi, diinginkan atau pun tidak. Dari hal ini, maka setiap mata berbeda-beda pada yang dilihatnya, akan tetapi pendengaran mendengar hal yang sama. Setiap kita memiliki mata, ia melihat apa saja yang ia mau lihat; akan tetapi kita tidak mampu memilih hal yang mau kita dengarkan, kita mendengarkan apa saja yang berbunyi, suka atau tidak suka, sehingga pantas Allah ta’alaa menyebutkan kalimat “pandangan” dalam bentuk jamak, dan kalimat “pendengaran” dalam bentuk tunggal, meskipun kalimat pendengaran didahulukan daripada kalimat penglihatan. Maka pendengaran tidak pernah tidur atau pun istirahat. Dan organ tubuh yang tidak pernah tidur maka lebih tinggi (didahulukan) daripada makhluk atau organ yang bisa tidur atau istirahat. Maka telinga tidak tidur selama-lamanya sejak awal kelahirannya, ia bisa berfungsi sejak detik pertama lahirnya kehidupan yang pada saat organ-organ lainnya baru bisa berfungsi setelah beberapa saat atau beberapa hari, bahkan sebagian setelah beberapa tahun kemudian, atau pun 10 tahun lebih.

Dan telinga tidak pernah tidur, ketika engkau sedang tidur maka semua organ tubuhmu tidur atau istirahat, kecuali telinga. Jika terdengar suara disampingmu maka spontan engkau akan terbangun. Akan tetapi, jika fungsi telinga terhenti, maka hiruk-pikuk aktivitas manusia di siang hari dan semua bunyi yang ada tidak akan membangunkan tidur kita, sebab alat pendengarannya (penerima bunyi) yaitu telinga tidak bisa menerima sinyal ini. Dan telinga pulalah yang merupakan alat pendengar panggilan penyeru pada hari qiamat kelak ketika terompet dibunyikan.

Dan mata membutuhkan cahaya untuk bisa melihat, sedangkan telinga tidak memerlukan hal lain. Maka, jika dunia dalam keadaan gelap, maka mata tidak bisa melihat, walaupun mata anda tidak rusak. Akan tetapi telinga bisa mendengar apapun, baik siang maupun malam; dalam gelap maupun terang benderang. Maka telinga tidak pernah tidur dan tiak pernah berhenti berfungsi. ( 04 sept 2003M. )

 Hasil download dari sebuah website.





CALON ORANG BESAR MEMULAI PERUBAHAN

16 03 2008


by : KH. Abdullah Gymnastiar

       Kita ini terlalu banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu di luar diri kita. Juga terlalu banyak energi dan potensi kita untuk memikirkan selain diri kita, baik itu merupakan kesalahan,keburukan,mau pun kelalaian. Namun, ternyata sikap kita yang kita anggap kebaikan itu tidak efektif untuk memperbaiki yang kita anggap salah.

       Banyak orang yang menginginkan orang lain berubah,tapi ternyata yang diinginkannya itu tak kunjung terwujud. Kita sering melihat orang yang menginginkan Indonesia berubah.         Tapi, pada saat yang bersamaan, ternyata keluarganya ‘babak belur’, di kantor sendiri tak disukai, di lingkungan masyarakat tak bermanfaat. Itu namanya terlampau muluk.

        Jangankan mengubah Indonesia, mengubah anaknya saja tidak mampu. Banyak yangmenginginkan situasi negara berubah, tapi kenapa merubah sikap istri saja tidak sanggup. Jawabnya adalah: kita tidak pernah punya waktu yang memadahi untuk bersungguh-sungguh mengubah diri sendiri. Tentu saja, jawaban ini tidak mutlak benar. Tapi jawaban ini perlu diingat baik-baik.

        Siapa pun yang bercita-cita besar, rahasianya adalah perubahan diri sendiri.Ingin mengubah Indonesia, caranya ubah saja diri sendiri. Betapapun kuatnya keinginan kita untuk mengubah orang lain, tapi kalau tidak dimulai dari diri sendiri, semua itu menjadi hampa. Setiap keinginan mengubah hanya akan menjadi bahan tertawaan kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Orang di sekitar kita akan menyaksikan kesesuaian ucapan dengan tindakan kita.

        Boleh jadi orang yang banyak memikirkan diri sendiri itu dinilai egois.Pandangan itu ada benarnya jika kita memikirkan diri sendiri lalu hasilnyajuga hanya untuk diri sendiri. Tapi yang dimaksud di sini adalah memi kirkan diri sendiri, justru sebagai upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk memperbaiki yang lebih luas.

        Perumpamaan yang lebih jelas untuk pandangan ini adalah seperti kita membangun pondasi untuk membuat rumah. Apalah artinya kita memikirkan dinding, memikir kan genteng, memikirkan tiang sehebat apa pun, kalau pondasinya tidak pernah kita bangun. Jadi yang merupa kan titik kelemahan manusia adalah lemahnya kesunggu han untuk mengubah dirinya, yang diawali dengan kebe ranian melihat kekurangan diri.

        Pemimpin mana pun bakal jatuh terhina manakala tidak punya keberanian mengubah dirinya. Orang sukses mana pun bakal rubuh kalau dia tidak punya keberanian untuk mengubah dirinya. Kata kuncinya adalah keberanian. Berani mengejek itu gampang, berani menghujat itu gampang, tapi, tidak sembarang orang yang berani meli hat kekurangan diri sendiri. Ini hanya milik orang- orang yang sukses sejati. Orang yang berani membuka kekurangan orang lain, itu biasa. Orang yang berani membincangkan orang lain, itu tidak istimewa. Sebab itu bisa dilakukan orang yang tidak punya apa-apa sekali pun. Tapi, kalau ada orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri, bertanya tentang kekurangan itu secara sistematis, lalu dia buat sistem untuk melihat kekurangan dirinya,inilah calon orang besar.

          Mengubah diri dengan sadar, itu juga mengubah orang lain. Walaupun dia tidak mengucap sepatah kata pun untuk perubahan itu, perbuatannya sudah menjadi ucapan yang sangat berarti bagi orang lain. Percayalah, kegigi han kita memperbaiki diri, akan membuat orang lain melihat dan merasakannya.

          Memang pengaruh dari kegigihan mengubah diri sendiri tidak akan spontan dirasakan. Tapi percayalah, itu akan membekas dalam benak orang. Makin lama, bekas itu akan membuat orang simpati dan terdorong untuk juga melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ini akan terus berimbas, dan akhirnya seperti bola salju. Perubahan bergulir semakin besar.

          Jadi kalau ada orang yang bertanya tentang sulitnya mengubah anak, sulitnya mengubah istri, jawabannya dalam diri orang itu sendiri. Jangan dulu menyalahkan orang lain, ketika mereka tidak mau berubah. Kalau kita sebagai ustadz, kyai, jangan banyak menyalahkan santrinya. Tanya dulu diri sendiri.Kalau kita sebagai pemimpin, jangan banyak menyalahkan karyawan, lihat dulu diri sendiri seperti apa.

         Kalau kita sebagai pemimpin negara, jangan banyak menyalahkan rakyatnya.Lebih baik para penyelenggara negara gigih memperbaiki diri sehingga bisa menjadi teladan. Insya Allah, walaupun tanpa banyak berkata, dia akan membuat perubahan cepat terasa, jika berani memperbaiki diri. Itu lebih baik dibanding banyak berkata, tapi tanpa keberanian menjadi suri teladan.

         Jangan terlalu banyak bicara. Lebih baik bersungguh-sungguh memperbaiki diri sendiri. Jadikan perkataan makin halus, sikap makin mulia, etos kerja makinsung guh-sungguh, ibadah kian tangguh. Ini akan disaksikan orang. Membicarakan dalil itu suatu kebaikan. Tapipembicaraan itu akan menjadi bumerang ketika perilaku kita tidak sesuai dengan dalil yang dibicarakan.Jauh lebih utama orang yang tidak berbicara dalil, tapi berbuat sesuai dalil. Walaupun tidak dikatakan, dirinya sudah menjadi bukti dalil tersebut.

          Mudah-mudahan, kita bisa menjadi orang yang sadar bahwa kesuksesan diawalidari keberanian melihat kekurangan diri sendiri. Amien





MEMPERINDAH HATI

10 03 2008

 

            Setiap manusia tentulah sangat menyukai dan merindukan keindahan. Banyak orang yang menganggap keindahan adalah pangkal dari segala puji dan harga. Tidak usah heran kalau banyak orang memburunya. Ada orang yang berani pergi beratus bahkan beribu kilometer semata-mata untuk mencari suasana pemandangan yang indah. Banyak orang rela membuang waktu untuk berlatih mengolah jasmani setiap saat karena sangat ingin memiliki tubuh yang indah. Tak sedikit juga orang berani membelanjakan uangnya berjuta bahkan bermilyar karena sangat rindu memiliki rumah atau kendaraan mewah.

            Akan tetapi, apa yang terjadi? Tak jarang kita menyaksikan betapa terhadap orang-orang yang memiliki pakaian dan penampilan yang mahal dan indah, yang datang ternyata bukan penghargaan, melainkan justru penghinaaan. Ada juga orang yang memiliki rumah megah dan mewah, tetapi bukannya mendapatkan pujian, melainkan malah cibiran dan cacian. Mengapa keindahan yang tadinya disangka akan mengangkat derajat kemuliaan malah sebaliknya, padahal kunci keindahan yang sesungguhnya adalah jika sesorang merawat serta memperhatikan kecantikan dan keindahan hati. Inilah pangkal kemuliaan sebenarnya.

            Rasulullah SAW pakaiannya tidak bertabur bintang penghargaan, tanda jasa, dan pangkat. Akan tetapi, demi Allah sampai saat ini tidak pernah berkurang kemuliaannya. Rasulullah SAW tidak menggunakan singgasana dari emas yang gemerlap, ataupun memiliki rumah yang megah dan indah. Akan tetapi, sampai detik ini sama sekali tidak pernah luntur pujian dan penghargaan terhadapnya, bahkan hingga kelak datang akhir zaman. Apakah rahasianya? Ternyata semua itu dikarenakan Rasulullah SAW adalah orang yang sangat menjaga mutu keindahan dan kesucian hatinya.

            Rasulullah SAW bersabda, “Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu!” (HR. Bukhari dan Muslim).

            Boleh saja kita memakai segala apapun yang indah-indah. Namun, kalau tidak memiliki hati yang indah,demi Allah tidak akan pernah ada keindahan yang sebenarnya. Karenanya jangan terpedaya oleh keindahan dunia. Lihatlah, begitu banyak wanita malang yang tidak mengenal moral dan harga diri. Mereka pun tidak kalah indah dan molek wajah, tubuh, ataupun penampilannya. Kendatipun demikian, mereka tetap diberi oleh Allah dunia yang indah dan melimpah.

            Ternyata dunia dan kemewahan bukanlah tanda kemuliaan yang sesungguhnya karena orang-orang yang rusak dan durjana sekalipun diberi aneka kemewahan yang melimpah ruah oleh Allah. Kunci bagi orang-orang yang ingin sukses, yang ingin benar-benar merasakan lezat dan mulianya hidup, adalah orang-orang yang sangat memelihara serta merawat keindahan dan kesucian qalbunya.

            Imam Al Ghazali menggolongkan hati ke dalam tiga golongan, yakni yang sehat (qolbun shahih), hati yang sakit (qolbun maridh), dan hati yang mati (qolbun mayyit).

Seseorang yang memiliki hati sehat tak ubahnya memiliki tubuh yang sehat. Ia akan berfungsi optimal. Ia akan mampu memilih dan memilah setiap rencana atas suatu tindakan, sehingga setiap yang akan diperbuatnya benar-benar sudah melewati perhitungan yang jitu berdasarkan hati nurani yang bersih.

            Orang yang paling beruntung memiliki hati yang sehat adalah orang yang dapat mengenal Allah Azza wa Jalla dengan baik. Semakin cemerlang hatinya, maka akan semakin mengenal dia. Penguasa jagat raya alam semesta ini. Ia akan memiliki mutu pribadi yang begitu hebat dan mempesona. Tidak akan pernah menjadi ujub dan takabur ketika mendapatkan sesuatu, namun sebaliknya akan menjadi orang yang tersungkur bersujud. Semakin tinggi pangkatnya, akan membuatnya semakin rendah hati. Kian melimpah hartanya, ia akan kian dermawan. Semua itu dikarenakan ia menyadari, bahwa semua yang ada adalah titipan Allah semata. Tidak dinafkahkan di jalan Allah, pasti Allah akan mengambilnya jika Dia kehendaki.

            Semakin bersih hati, hidupnya akan selalu diselimuti rasa syukur. Dikaruniai apa saja, kendati sedikit, ia tidak akan habis-habisnya meyakini bahwa semua ini adalah titipan Allah semata, sehingga amat jauh dari sikap ujub dan takabur. Persis seperti ucapan yang terlontar dari lisan Nabi Sulaiman AS, tatkala dirinya dianugerahi Allah berbagai kelebihan, “Haadzaa min fadhli Rabbii, liyabluwani a-asykuru am afkuru.” (QS. An Naml [27] : 40). Ini termasuk karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku mampu bersyukur atau malah kufur atas nikmat-Nya.

            Suatu saat bagi Allah akan menimpakkan ujian dan bala. Bagi orang yang hatinya bersih, semua itu tidak kalah terasa nikmatnya. Ujian dan persoalan yang menimpa justru benar-benar akan membuatnya kian merasakan indahnya hidup ini. Karena, orang yang mengenal Allah dengan baik berkat hati yang bersih, akan merasa yakin bahwa ujian adalah salah satu perangkat kasih sayang Allah, yang membuat seseorang semakin bermutu.

            Dengan persoalan akan menjadikannya semakin bertambah ilmu. Dengan persoalan akan bertambahlah ganjaran. Dengan persoalan pula derajat kemuliaan seorang hamba Allah akan bertambah baik, sehingga ia tidak pernah resah, kecewa, dan berkeluh kesah karena menyadari bahwa persoalan merupakan bagian yang harus dinikmati dalam hidup ini.

            Oleh karenanya, tidak usah heran orang yang hatinya bersih, ditimpa apapun dalam hidup ini, sungguh bagaikan air di relung lautan yang dalam. Tidak pernah akan berguncang walaupun ombak badai saling menerjang. Ibarat karang yang tegak tegar, dihantam ombak sedahsyat apapun tidak akan pernah roboh. Tidak ada putus asa, tidak ada keluh kesah berkepanjangan. Yang ada hanya kejernihan dan keindahan hati. Ia amat yakin dengan janji Allah, “Laa yukalifullahu nafasan illa wus’ahaa.” (QS. Al Baqarah [2] : 286). Allah tidak akan membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Pasti semua yang menimpa sudah diukur oleh-Nya. Mahasuci Allah dari perbuatan zhalim kepada hamba-hamba-Nya.

            Ia sangat yakin bahwa hujan pasti berhenti. Badai pasti berlalu. Malam pasti berganti menjadi siang. Tidak ada satu pun ujian yang menimpa, kecuali pasti akan ada titik akhirnya. Ia tidak berubah bagai intan yang akan tetap kemilau walaupun dihantam dengan apapun jua.

            Memang luar biasa orang yang memiliki hati yang bersih. Nikmat datang tak pernah membuatnya lalai bersyukur, sementara sekalipun musibah yang menerjang, sama sekali tidak akan pernah mengurangi keyakinan akan curahan kasih sayang-Nya. Semua itu dikarenakan ia bisa menyelami sesuatu secara lebih dalam atas musibah yang menimpa dirinya, sehingga tergapailah sang mutiara hikmah. Subhanallaah, sungguh teramat beruntung siapapun yang senantiasa berikhtiar dengan sekuat-kuatnya untuk memperindah qolbunya.***

 

(Sumber : Tabloid MQ EDISI 05/TH.1/SEPTEMBER 2000)





Kisah cintaku

8 03 2008

“Suatu pagi aku terbangun dan berpeluang melihat mentari terbit. Aaah..

kecantikan alam ciptaan Allah memang tiada bandingnya. Sedang aku perhatikan. Aku puji Tuhan atas segala keindahan yang telah Ia sajikan. Aku duduk dan terasa kehadiranNya di sisiku.

Dia bertanya kepadaku, Adakah kamu mencintai aku. Aku menjawab, Sudah tentu! Engkaulah Penciptaku, masa aku tidak mencintaiMu. Kemudian Dia bertanya lagi, Jika kamu ditakdirkan cacat anggota tubuhmu, adakah kamu akan mencintaiKu. Aku tergamam seketika. Aku lihat tangan, kaki dan seluruh anggota tubuhku. Aku teringat berbagai pekerjaan yang mustahil aku lakukan tanpa anggota tubuhku ini yang selama ini tidak kusadari kepentingannya. Kemudian aku menjawab, Tentunya dia amat sukar bagiku, tetapi aku akan tetap mencintaiMu.

Kemudian Dia bertanya lagi, Jika kamu ditakdirkan buta, apakah kamu akan menyayangi segala ciptaanKu? Bagaimana mungkin bagiku untuk mencintai sesuatu yang di dunia ini yang tak mampu aku lihat? Kemudian aku berfikir…banyak orang yang ditakdirkan buta di dunia ini, dan mereka masih mencintai Allah dan segala ciptaanNya. Lantas aku menjawab, Amat sukar bagiku membayangkan keadaanku yang sedemikian rupa, namun begitu aku akan tetap menyintaimu Ya Allah. Dia bertanya lagi, Jika kamu ditakdirkan tuli, adakah kamu akan tetap mendengar kepada kata-kataKu?

Bagaimana mungkin bagiku mendengar jika aku tuli? Kemudian aku tersadar bahawa mendengar itu tidak semestinya menggunakan telinga; tetapi menggunakan hati. Aku menjawab, Walaupun takdir itu amat berat bagiku, namun aku akan tetap menyintaiMu. Dia menyambung lagi pertanyaanNya, Jika kamu ditakdirkan bisu adakah kamu akan terus memujiKu. Aku bertanya lagi, bagaimana aku bisa memuji tanpa suara. Aku berfikir kemudian yang Allah inginkan kita memujiNya dari dalam hati dan jiwa kita; tidak penting bagaimanakah bunyinya.

Kemudian aku menjawab, Sungguhpun aku tidak mampu untuk membunyikan pujian bagiMu. Aku akan tetap memujiMu. Dan… Dia terus bertanya lagi, Adakah kamu benar-benar menyintaiKu? dengan nada yang tegas dan penuh keberanian. Aku menjawab dengan yakin, Ya, benar Tuhanku. Aku menyintaimu kerana Engkaulah satu-satunya Tuhanku dan Tuhan yang sebenar. Aku pikir jawabanku tadi sudah cukup bagus untuk menjawab tetapi Dia terus bertanya lagi, Kalau begitu Kenapa kamu masih melakukan dosa. Aku menjawab, Karena aku cuma manusia bisa yang selalu lalai. Aku tidak sempurna…aku bukan maksum. Kalau begitu, Kenapa ketika kamu senang dan gembira…kamu melupakanKu; kamu lari jauh daripadaKu? Dan Kenapa ketika kamu susah dan membutuhkan bantuan. Kamu terus ingat kepada aku; kamu datang dekat dan merayu kepada Aku. Aku tidak mampu berkata-kata lagi. Yang kusadari…tetesan air mata turun membasahi pipiku.

Dia menyambung lagi, Mengapa kamu buat seperti ini…kadang-kadang sujud menyembahKu, dan kemudian membelakangiKu; tidak memperdulikanKu? Mengapa kamu hanya datang mencariKu hanya ketika kamu mengingatiKu? Mengapa kamu meminta kepadaKu sedang kamu tidak setia kepadaKu? Kurasakan tetesan air mata mengalir deras membasahi pipiku tanpa henti. Mengapa kamu malu kepadaKu? Mengapa kamu tidak mahu menyebarkan seruanKu? Mengapa ketika kamu dizalimi kamu adukan kepada yang lain sedang aku sedia mendengar segala rintihanmu? Mengapa kamu sering membuat alasan ketika aku memberi peluang untuk mengabdi di jalanKu? Ku paksakan bibirku ini untuk mengucapkan kata demi kata untuk menjawab segala pertanyaan yang bertubi-tubi diajukan kepadaku. Tetapi aku tidak punyai jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tadi. Lidahku yang selama ini lancar berkata-kata, kini kelu. Otakku ligat mencari jawaban… atau alasan… namun tidak ada apa yang kutemui sebagai jawaban.

 Dia berkata-kata lagi… Kamu diberikan sebuah kehidupan. Aku jadikan dalam dirimu memiliki keistimewaan dan kelebihan dibandingkan orang lain untuk kamu berjuang di jalanKu, tetapi kamu tetap berpaling dari jalanKu. Aku tunjukkan kepadamu ayat-ayatKu sebagai panduan kamu dalam hidup ini, tetapi kamu tidak mau mempelajari atau menghayatinya. Acap kali aku berkata-kata kepadamu, tetapi kamu berpaling daripada melihatnya. Aku turunkan kepada kamu pesuruhKu, tetapi kamu tidak memperdulikan ketika sunnahnya ditinggalkan. Aku dengar segala permintaan dan rayuanmu kepadaKu… dan semuanya telah aku perkenankan dengan berbagai cara. SambungNya lagi, Kini… adakah kamu menyintaiKu. Aku tidak mampu menjawabnya lagi.

Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan ini?. Dalam tidak sadar. Aku malu dengan segala apa yang telah aku lakukan selama ini. Aku tidak lagi punya alasan untuki menyelamatkan diriku. Apa yang bisa aku jawab untuk pertanyaan-pertanyaan itu?

Ketika hatiku berteriak menangis, dan bercucuran airmata mengalir turun di kedua-dua belah pipiku. Aku merintih, Oh Tuhanku… ampunkanlah segala dosaku. Aku tidak layak menjadi hambaMu Ya Allah…kemudian Dia menjawab, Sifatku pengampun…barangsiapa yang memohon keampunan dariKu, niscaya Aku mengampuninya. Dan aku ampuni kamu wahai hambaKu. Aku bertanya kepadaNya, Mengapa Engkau tetap mengampuniku sungguhpun aku melakukan kesalahan berulangkali dan memohon ampun berulangkali? Sampai begitu pedulikah cintaMu terhadapku? Dia menjawab Karena kamu adalah ciptaanKu. Aku sekali-kali tidak akan mengabaikanmu.

Apabila kamu menangis aku akan bersimpati kepadamu dan mendengar segala rintihanmu. Apabila kamu melonjak kegirangan aku akan turut gembira dengan kegembiraanmu. Apabila kamu merasa gundah dan kesepian. Aku akan memberikanmu semangat. Apabila kamu jatuh aku akan membangkitkanmu. Apabila kamu kelelahan aku akan membantumu. Aku akan tetap bersamamu hingga ke hari akhir dan aku akan tetap menyayangimu selama-lamanya.

Seingatku… aku tidak pernah menangis seperti ini. Aku sendiri tidak mengerti Kenapa hatiku ini begitu keras; tidak mampu menangis menyesali segala dosaku selama ini. Dan..untuk pertama kalinya dalam hidupku ini… aku benar-benar sholat dalam artikata yang sebenar.

 

semoga redhaNya mengiringi kehidupan yang berkepanjangan…

 

[pendamba kasih ILAHI, perindu syahid abadi…]





DO’A

7 03 2008
DOA
By : Tazakka
 
Alloh kuatkan imanku
Dalam kehidupan ini
Penuh tantangan dan jua rintangan
Mudahkanlah tempuhi jalanku
Sesekali terjebak dalam naungan dosa
Terasa hilang jiwaku
 
Alloh kutahu cintamu
Kau berikan nikmat melimpah
Setiap saat tiada terputus
Namunku jarang mensyukuri
Kusadari semua nafsu telah menipu
Hingga kulupakan cinta-Mu
 
Ya Alloh dunia menipuku
Indahnya paling mata
Terjebak aku dalam pesonanya
Hilangkan syukurku pada-Mu
 
Ya Alloh tuhaku ampuilah dosaku
Agar lurus jalanku ini
 
Alloh betapa indahnya
Bila hidup dalam petunjuk-Mu
Ya Alloh tuhanku ampunkan dosaku
Agar lurus jalanku ini
 
Alloh betapa indahnya
Bila hidup dalam petunjuk-Mu
Namun kusadari betapa beratnya
Untuk mendapatkan semua itu
Kutiada daya tanpa pesona-Mu
 
Wahai Tuhanku Yang Kuasa
 
Ya Allohu Ya Rohman
Pintaku hanya kepada-Mu
Kembalikan semua ghirahku
Menuju jalan-Mu yang satu
Tiada daya kuatnya jiwa hampa
Ridho-Mu Ya Alloh
Ridho-Mu Ya Alloh
 
Alloh kutahu maksud-Mu
Kau ciptakan semua ini
Untuk beribadah dan taat pada-Mu
namun ku sering melalaikan
 
Ya Alloh tuhaku
Ampunkan dosaku
Agar hidupku selamat
 
Allohu Alloh Yaa Allohu Ya Alloh 
Allohu Yaa Rohiim
Allohu Ya Rohiim
Allohu Yaa Rohman
Allohu Ya Rohiim