Home > Uncategorized > SEGMENTASI

SEGMENTASI

muftisany el-hafiedz

Aku bukan termasuk orang yang berkecimpung di dunia pers mahasiswa, apalagi pers mahasiswa islam. Pers mahasiswa mempunyai spesifik keilmuan dan modelnya tersendiri,apalagi ditambah embel-embel pers mahasiswa islam, yang akan lebih mempunyai spesifikasi kajian dan metodologi khusus. Aku mengenalnya pertama kali dengan istilah jusnalistik profetik. Aku berbicara disini sebagai pengamat, selalu mudah untuk menjadi pengamat, keterlibatanku di dunia pers mahasiswa terbatas hanya sebagai seksi acara diagenda besarnya, tidak pernah mengetahui seluk beluk kepenulisan, editorial, manajemen pers,oplah, dan lain-lain.Aku hanya ingin berbicara atas apa yang kulihat dengan pers mahasiswa islam dan mengaitkannya dengan seluruh kapabilitas otakku tentang pemahaman pers mahasiswa islam. (mulai bingung ?)

Berbicara tentang pers mahasiswa islam, bagi orang luar sepertiku maka yang pertama kali dilihat adalah produknya, produk mencerminkan siapa dan apa pembuatnya, akan dibawa kemana arah pers ini bisa dilihat dari produknya. Dan aku lihat yang sangat dominan produk yang keluar dari pers kita (mahasiswa islam –pen) adalah bulletin. Semacam beberapa lembar tanpa hard cover dengan content satu tema besar dan desain satu warna, Bulletin.Entah apapun namanya, bulletin jum’at, bulletin bulanan, special ramadhan, penerimaan mahasiswa baru,polanya hampir mirip. Dan memang bulletin, bagi masyarakat umum dengan tampilan yang sepertinya sudah menjadi trade mark, orang-orang akan menyebut itu bulletin islami, karena banyak yang dikeluarkan menjelang ibadah sholat jum’at di masjid-masjid dan dikeluarkan oleh beberapa lembaga islam.

Yang ada dalam fikiranku tentang produk bernama bulletin ini adalah, tidak harus produk pers mahasiswa berbentuk bulletin. Aku lebih berbicara kepada segmentasi, karena segmentasi dari lembaga pers kita akan sangat mempengaruhi dari hasil produk kita secara keseluruhan, baik bahasa, lay out, system distribusi, dan marketing.Segmentasi berawal dari idealisme, dan idealisme berawal dari cita-cita para pendahulu ketika mendirikan lembaga pers ini.Pers islami mungkin akan lebih spesifik, secara global dia akan berfungsi untuk menyampaikan nilai-nilai islam ke khayalak. Namun setelah idealisme ini muncul, dia akan mengahadapi realitas social, khayalak yang mana yang akan menjadi segmentasinya ? ini memang masalah strategi saja, memang setiap manusia akan menerima islam secara fitrah, ini yang menjadi keyakinan kita, tapi pembagian segmentasi hanya sebuah strategi ditengah aruh ideology lain yang juga menjadikan umat islam sebagai objeknya. Okelah kita hidup di dunia mahasiswa, maka segmentasi kita adalah mahasiswa muslim. Sampai disini sudah terjadi perbedaan yang besar, pilihan diksi mahasiswa tentu beda dengan bahasa-bahasa untuk berita-berita criminal, atau untuk masyarakat profesi (nelayan, petani, peternak dll). Intelektualitas, itu kata kuncinya menurutku. tafsir intelektualitas yang seperti apa yang seharusnya kita anut, itu aku serahkan pada kalian, karena ternyata bagiku segmentasi mahasiswa islam pun masih harus dipecah.

Ada sebagian mahasiswa yang ketika mendapat bulletin jum’atan, atsarnya (bekas-pen) tidak terlalu mendalam,umpama dia mendapatkan bulletin tentang pacaran misalnya, dia hanya akan membaca, berkata Oohh, lalu tak berbekas sama sekali, sekalipun banyak hujjah dengan Al-quran dan hadist. Kita tidak bisa menafikkan sebagian mahasiswa yang seperti ini, kita hanya perlu segmentasi khusus untuk mereka.

Ada memang mahasiswa islam yang tak mementingkan gaya bahasa, lay out atau apapun,asal dia dikeluarkan oleh lembaga yang kredibilitas keislamannya bagus, maka itu akan sangat menarik baginya, dia mengejar content bukan tampilan, dan bisa jadi content yang ada adalah sesuatu yang dia tunggu-tunggu untuk dibaca. Dan kita juga perlu membuat segmentasi khusus untuk mereka.

ada yang ingin membagi segmentasi lain ?

Seperti yang kubilang aku tak tahu sama sekali tentang pers mahasiswa, apakah ketika aku menulis sesuatu lalu aku print dalam format Ms. Word lalu aku fotocopy dan aku bagikan ternyata ada 100 orang yang berminat membacanya itu disebut dalam kategori pers, atau ketika aku menulis lalu aku bersama tim ku membuat editorial, sapa redaksi, susunan redaksi, membuat tema-tema, mendisain dengan lay out minimagz full color lalu mencetaknya di percetakan dan aku bagikan ternyata ada 10 orang yang membacanya itu disebut kategori pers ?

Entahlah, aku hanya ingin bulletin-bulletin itu tidak bertebaran dimana-mana sehabis dibaca, atau berserakan karena tidak dibaca. Aku hanya berfikir banyak orang membaca produk kita tanpa merasa terhakimi lalu dari situ timbul antusiame untuk belajar agama, aku hanya berfikir banyak produk kita masuk ke semua lini hingga saatnya, bisa diterima semua kalangan dan menjadi ladang amal kita jika banyak yang membacanya dan mengamalkannya, insyaAllah. dan sebelum tidur aku berfikir, sepertinya FORLITAS mempunyai kekuatan ke arah sana. selamat berjuang, aku harap ketika bangun esok, ada selembar bulletin di sampingku dengan tulisan, “diterbitkan oleh : FORLITAS UGM”.

be continue

Categories: Uncategorized
  1. kenz
    December 8, 2007 at 4:14 pm | #1

    pers itu luas. maka pers itu kuat.
    kalo mengaku tidak tahu menahu tentang apa itu pers mahasiswa (islam), kenapa menulis tulisan diatas.
    keluar dari ‘frame’ pers yang slm ini kau ketahui, it yg dibutuhkan.
    tapi betewe,,,, emangnya FORLITAS itu pers?
    dilihat dr filosofinya, sepertinya tidak.
    maap,hy komentar.

  2. dearsany
    December 10, 2007 at 4:51 pm | #2

    saya meyakini pers (termasuk pers islam) adalah sebuah kajian ilmiah yang mempunyai standar kajian dan definitif sendiri. mungkin teman2 komunikasi lebih faham. Saya hanya menulis dari hasil pengamatan saya terhadap produk-produk pers mahasiswa. Sebagai peminat dan mantan penggiat pers mahasiswa yang hanya nympang nama saja.
    “keluar dari “frame” pers yang selama ini kau ketahui, itu yg dibutuhkan” itulah maksud saya….tapi tulisan saya ga mencerminkan begitu y
    forlitas itu pers ? entahlah, pendirinya mungkin lebih mahfum. aku tak tau apa beda pers dengan jurnalistik……(plis deh anak ELiNS)

  3. -qQ-
    October 8, 2008 at 5:23 pm | #3

    perasaan dakwah ga kenal segmen deh? :D

  1. No trackbacks yet.