Sebuah perjalanan dakwah akan terus berjalan dengan atau tanpa kita, itu kata-kata yang saya ingat saat senior saya tausiah dikegiatan up grading pengurus. Ya saya kira memang kitalah yang seharusnya memerlukan dakwah. Kitalah yang memerlukan Surga, bukan Allah, karena Allah tidak bergantung kepada makhlukNya.
Dalam beramal jama’i sebuah saling kepahaman diantara para pelaku dakwah adalah sebuah keniscayaan, kepahaman bahwa memang kita diciptakan oleh Sang Khaliq mempunyai sifat atau karakter yang berbeda, itu sudah merupakan Sunnatulloh, itulah sebuah tanda kebesaran yang Maha Kuasa untuk menjadi sebuah hal yang harus kita pikirkan.
Makanya dalam hal berukhuwah sesudah ta’aruf (saling mengenal) tahap selanjutnya adalah tafahum, karena bagaimana kita akan bisa bekerjasama dengan ikhwah lain kalo kita tidak tahu tentang sifat-sifat yang lain. Bisa jadi kita melakukan sesuatu yang menurut kita baik tetapi kurang bisa diterima oleh teman kita yang lain. Akhirnya ketika ketafahuman sudah tidak pernah dilakukan, maka ukhuwah yang kita bangun bisa jadi keropos tanpa kita sadari.
Orang bilang ‘ikhwah juga manusia’ , tentu saja satu dengan yang lain punya kekurangan sendiri-sendiri, jangan sampai ketidaktahuan kita mengakibatkan mulai robohnya bangunan dakwah ini. So be carefull with kata-kata kita, perilaku dan sikap kita terhadap ikhwah yang lain.
“Barang siapa beriman kepada 4JJI dan Hari Akhir maka hendaknya berkata yang baik atau diam, …..”(HR Muslim)
dalam Hadits yang lain,
Rasulullah bersabda :
“Seseorang terkadang mengeluarkan perkataan yang tiada diperhatikan, tahu-tahu dirinya terperosok ke jurang neraka sedalam jarak timur dan barat”(HR Bukhori No. 6477 / Muslim No. 2988 / musnad Imam Ahmad No. 8703).
Recent Comments