Archive

Archive for March, 2007

6 Pertanyaan Imam Ghazali

March 12, 2007 forlitas 6 comments

Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau
bertanya :

Pertanyaan pertama : “Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”
Murid 1 : Orang tua
Murid 2 : Guru
Murid 3 : Teman
Murid 4 : Kaum kerabat

Imam Ghazali : “Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI ( Surah Ali-Imran:185) . Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati.”

Pertanyaan kedua : “Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?”
Murid 1 : Negeri Cina
Murid 2 : Bulan
Murid 3 : Matahari
Murid 4 : Bintang-bintang

Iman Ghazali : “Semua jawaban itu benar. Tetapi Read more…

Categories: Uncategorized

The Time

March 4, 2007 forlitas 4 comments

Pandangan orang tentang waktu sangat berbeda, ‘the Time is Money” itu mungkin pepatah yang paling sering kita dengar, pepatah yang kebanyakan digunakan oleh orang yang (kebanyakan) hanya memikirkan kehidupannya didunia saja. Tapi apakah hanya itu makna waktu bagi seorang muslim ? Setidaknya kita (muslim) punya pepatah yang jauh lebih bermakna, ‘waktu adalah pedang’ ketika kita tidak pandai menggunakannya, waktu itulah yang akan mencelakakan kita.

Bukan hanya didunia saja, makna ini juga berlaku untuk kehidupan diakherat, bagaimana sikap kita terhadap waktu didunia untuk menyiapkan tempat kembali kita ke akherat. Betapa ruginya orang yang hanya memanfaatkan waktunya hanya untuk kehidupan didunia saja  Read more…

Categories: Artikel

The Second Post

March 2, 2007 forlitas 2 comments

Sebuah perjalanan dakwah akan terus berjalan dengan atau tanpa kita, itu kata-kata yang saya ingat saat senior saya tausiah dikegiatan up grading pengurus. Ya saya kira memang kitalah yang seharusnya memerlukan dakwah. Kitalah yang memerlukan Surga, bukan Allah, karena Allah tidak bergantung kepada makhlukNya.

Dalam beramal jama’i sebuah saling kepahaman diantara para pelaku dakwah adalah sebuah keniscayaan, kepahaman bahwa memang kita diciptakan oleh Sang Khaliq mempunyai sifat atau karakter yang berbeda, itu sudah merupakan Sunnatulloh, itulah sebuah tanda kebesaran yang Maha Kuasa untuk menjadi sebuah hal yang harus kita pikirkan.

Makanya dalam hal berukhuwah sesudah ta’aruf (saling mengenal) tahap selanjutnya adalah tafahum, karena bagaimana kita akan bisa bekerjasama dengan ikhwah lain kalo kita tidak tahu tentang sifat-sifat yang lain. Bisa jadi kita melakukan sesuatu yang menurut kita baik tetapi kurang bisa diterima oleh teman kita yang lain. Akhirnya ketika ketafahuman sudah tidak pernah dilakukan, maka ukhuwah yang kita bangun bisa jadi keropos tanpa kita sadari.

Orang bilang ‘ikhwah juga manusia’ , tentu saja satu dengan yang lain punya kekurangan sendiri-sendiri, jangan sampai ketidaktahuan kita mengakibatkan mulai robohnya bangunan dakwah ini. So be carefull with kata-kata kita, perilaku dan sikap kita terhadap ikhwah yang lain.

 “Barang siapa beriman kepada 4JJI dan Hari Akhir maka hendaknya berkata yang baik atau diam, …..”(HR Muslim)

dalam Hadits yang lain,

 Rasulullah bersabda :

“Seseorang terkadang mengeluarkan perkataan yang tiada diperhatikan, tahu-tahu dirinya terperosok ke jurang neraka sedalam jarak timur dan barat(HR Bukhori No. 6477 / Muslim No. 2988 / musnad Imam Ahmad No. 8703).

Categories: Artikel